Selasa, 18 September 2012

Mitos Malam 1 Suro

Malam 1 Suro: Persatuan, Kesatuan, dan Tradisi

JAKARTA, KOMPAS.com – Perayaan malam 1 Suro yang diadakan di depan Tugu Api, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Kamis (17/12/2009) kemarin menyimbolkan persatuan, kesatuan, dan tradisi. Malam 1 Suro diperingati dalam rangka menyambut Tahun Baru 1 Muharam 1431 H. Tahun Baru Muharam adalah perpaduan antara tahun baru Saka yang disatukan dengan tahun baru hijriah sejak zaman Sultan Agung.
“Dengan demikian terjadi satu kesatuan, tidak adalagi perbedaan antara orang-orang Jawa kuno dengan orang-orang Islam. Oleh sebab itu pada perayaan malam 1 Suro ini sekaligus diadakan doa lintas agama, dengan 6 agama serta para penganut ilmu kebatinan,” ucap Ketua Panitia Peringatan Malam Tahun Baru Muharam 1431 H, Mas’ud Thoyib, Kamis (17/12/2009) di TMII, Jakarta.
Doa dari enam agama dan kepercayaan secara bersama menandai kerukunan beragama di Indonesia, dan sekaligus untuk memohon petunjuk kepada Tuhan YME agar diberikan yang terbaik bagi Indonesia. Peringatan malam 1 Suro sendiri menampilkan nilai-nilai simbolik antara lain lewat Tumpeng Raksasa “Gunungan Baskara Nusantara” dan “Gunungan Candra Nusantara”.
“Kedua gunungan ini menggambarakan adanya satu hasil bumi yang pada zaman dahulu oleh raja Jawa dibuat satu bentuk yang disebut gunungan dan itu diberikan kepada masyarakat luas. Konon siapapun yang memperoleh kepingan yang terdapat dari gunungan tersebut akan punya berkat, bermanfaat bagi hidup, dilancarkan rezekinya, enteng dalam perjodohan, sukses dalam karier,” kata Mas’ud.
Gunungan ini sendiri, menurut Mas’ud, dibuat cukup lama yaitu satu minggu. “Satu minggu karena aslinya dibuat di Keraton Surakarta, dan tentunya seizin daripada engkang sinuwun, Pakubuwono ke 13,” kata Mas’ud.
Acara ini diawali dengan persiapan Kirab di Tugu Api Pancasila. Peserta kirab sendiri didukung oleh 2000 peserta, terdiri dari utusan perwakilan 33 provinsi, 16 museum dan 51 unit di TMII, 50 kelompok penghayat, 50 kelompok forum komunikasi paranormal, penyembuh alternatif Indonesia, dan masyarakat umum.
Setelah kirab di depan tugu api kemudian dilanjutkan dengan mengarak kedua gunungan, tumpeng-tumpeng yang jumlahnya ratusan buah, pusaka Majapahit, Kutai, Mataram, Majapahit, serta dua kerbau Bule “Nyai Welas” dan Nyai Asih yang berasal dari Keraton Surakarta Hadiningrat keliling kompleks TMII. “Semoga tradisi ini, bisa diadakan dan dilestarikan terus menerus tiap tahunnya. Semoga tradisi Suro pada kemudian hari nantinya bisa menjadi bagian dari objek wisata juga,” ucap Mas’ud.
Selain itu perayaan malam 1 Suro kemarin sekaligus dapat menjadi oase spiritual di tengah Jakarta yang metropolitan. “Sudah jarang masyarakat yang merayakan malam 1 Suro. Saya rasa tempat-tempat wisata lainnya belum tentu memperingatinya seperti TMII,” ucap Mas’ud.
Di tengah kesuksesan acara ini, tersimpan sedikit kekecewaan dari panitia. Karena menteri dari departemen yang terkait, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, tidak hadir dalam acara ini. “Sebenarnya besar harapan kami agar Pak menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, bisa hadir pada acara ini. Harusnya ini bisa dianggap 100 hari gebrakan dibidang kepariwisataan,” kata Mas’ud menutup pembicaraan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review